
Banyak pelaku usaha merasa bisnisnya “ramai” setiap hari—transaksi jalan, stok keluar, pelanggan datang silih berganti. Namun saat ditanya satu hal sederhana: sebenarnya untung atau rugi? Tidak sedikit yang terdiam. Inilah masalah klasik UMKM di Indonesia: usaha berjalan tanpa laporan keuangan yang jelas, terutama laporan laba rugi perusahaan.
Padahal, laporan laba rugi bukan hanya urusan akuntan atau perusahaan besar. Justru bagi UMKM, laporan ini adalah kompas utama untuk menentukan harga jual, efisiensi biaya, hingga keputusan ekspansi usaha. Artikel ini akan membahas secara tuntas cara menghitung laporan laba rugi dengan pendekatan yang praktis, mudah dipahami, dan relevan dengan realita bisnis sehari-hari.
Laporan laba rugi berfungsi untuk menunjukkan performa keuangan usaha dalam periode tertentu—bulanan, triwulan, atau tahunan. Dari laporan ini, pemilik usaha bisa melihat apakah strategi bisnis yang dijalankan benar-benar menghasilkan keuntungan.
Tanpa laporan laba rugi yang rapi, UMKM biasanya menghadapi masalah berikut:
Karena itu, memahami cara menghitung laba rugi perusahaan adalah skill wajib bagi setiap pemilik usaha.
Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang merangkum pendapatan dan beban usaha dalam periode tertentu. Selisih antara keduanya akan menunjukkan apakah bisnis mengalami laba atau rugi.
Secara sederhana:
Laba / Rugi = Total Pendapatan – Total Biaya
Meskipun rumusnya terlihat sederhana, tantangan utama UMKM justru terletak pada pencatatan dan pengelompokan data yang konsisten.
Sebelum masuk ke cara menghitung, kita perlu memahami komponen laporan laba rugi. Tanpa memahami ini, perhitungan akan mudah keliru.
Pendapatan adalah seluruh pemasukan dari aktivitas utama usaha, misalnya penjualan produk atau jasa.
HPP mencakup seluruh biaya langsung untuk menghasilkan produk, seperti bahan baku, tenaga produksi, dan biaya produksi lainnya.
Laba kotor diperoleh dari:
Laba Kotor = Pendapatan – HPP
Biaya operasional meliputi biaya sewa, gaji karyawan, listrik, internet, transportasi, hingga biaya pemasaran.
Inilah angka paling penting. Laba bersih dan laba kotor sering disalahartikan sama, padahal berbeda.
Laba Bersih = Laba Kotor – Biaya Operasional
Berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa langsung diterapkan oleh UMKM, bahkan tanpa latar belakang akuntansi.
Langkah pertama adalah menentukan periode laporan, misalnya bulanan. Periode yang konsisten memudahkan analisis dan evaluasi.
Pastikan semua penjualan tercatat, baik tunai maupun non-tunai. Kesalahan paling umum UMKM adalah hanya mencatat uang yang masuk ke rekening, bukan transaksi yang terjadi.
Jangan hanya menebak HPP. Hitung secara realistis agar margin keuntungan tidak menipu.
Laba kotor menunjukkan seberapa sehat model bisnis Anda sebelum biaya operasional.
Biaya kecil seperti parkir, pulsa, atau ongkir sering dianggap sepele, padahal jika dikumpulkan jumlahnya signifikan.
Kelompokkan biaya agar mudah dianalisis, misalnya biaya tetap dan biaya variabel.
Inilah hasil akhir dari cara menghitung laporan laba rugi. Angka ini menunjukkan performa riil usaha Anda.
Laporan laba rugi tidak hanya untuk dicatat, tetapi untuk dianalisis. Apakah biaya meningkat? Apakah margin menurun?
Menghitung manual rentan salah dan memakan waktu. Di sinilah teknologi berperan penting untuk UMKM.
| Keterangan | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Pendapatan | 50.000.000 |
| HPP | 30.000.000 |
| Laba Kotor | 20.000.000 |
| Biaya Operasional | 12.000.000 |
| Laba Bersih | 8.000.000 |
Dengan contoh di atas, pelaku usaha bisa langsung memahami cara menghitung keuntungan usaha secara konkret.
Kesalahan-kesalahan ini membuat laporan laba rugi tidak akurat dan menyesatkan pengambilan keputusan.
Di era digital, UMKM tidak lagi harus menghitung manual di Excel atau buku tulis. Sistem kasir digital modern mampu mencatat transaksi, menghitung HPP, hingga menyajikan laporan laba rugi secara otomatis dan real-time.
Dengan sistem yang tepat, pelaku usaha bisa:
Memahami cara menghitung laporan laba rugi bukanlah hal rumit jika dilakukan dengan metode yang tepat dan konsisten. Laporan laba rugi membantu UMKM melihat kondisi bisnis secara objektif, bukan berdasarkan perasaan atau asumsi.
Namun, menghitung saja tidak cukup. Tantangan sebenarnya adalah menjaga pencatatan tetap rapi dan akurat di tengah kesibukan operasional.
Jika Anda ingin laporan laba rugi yang otomatis, rapi, dan siap dipakai untuk mengambil keputusan bisnis, saatnya beralih ke solusi digital. Gunakan Karts POS sebagai sistem kasir dan manajemen usaha yang membantu mencatat transaksi, menghitung laba rugi, dan memantau performa bisnis secara real-time. Kunjungi https://pos.karts.id dan rasakan kemudahan mengelola usaha dengan lebih cerdas.
