Kisah Cik One, Petani Matoa di Pati yang Sukses Raih Omzet Rp 1 Miliar Sebulan
Kisah inspiratif datang dari dunia agribisnis di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Seorang petani buah lokal bernama Kiswanto, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Cik One, berhasil membuktikan bahwa ketekunan dalam menggeluti usaha pertanian mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah yang fantastis. Usaha budidaya matoa yang telah ia rintis sejak tahun 2009 ini kini mencatatkan perputaran uang yang luar biasa, mencapai Rp 1 miliar dalam satu bulan saat kondisi pasar sedang ramai.
Saat ditemui di kediamannya yang berlokasi di Desa Kedungsari RT 2 RW 2, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Cik One tampak sibuk dengan aktivitas rutinnya. Ia tengah memilah dan memilih buah matoa kualitas terbaik untuk dikirimkan kepada para pelanggan.
Matoa: Ikon Desa Kedungsari dan Dinamika Musim
Menurut penuturan Cik One, buah matoa bukanlah tanaman asing di lingkungannya. Tanaman ini tumbuh subur dan banyak ditemukan di sekitar tempat tinggalnya, bahkan telah menjadi ciri khas tersendiri bagi warga Desa Kedungsari, Kecamatan Tayu. Keberadaan pohon-pohon ini memudahkan akses terhadap komoditas tersebut.
Namun, layaknya produk pertanian pada umumnya, ketersediaan buah matoa sangat bergantung pada musim. Cik One menjelaskan bahwa siklus panen raya biasanya terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun, tepatnya mulai bulan Agustus hingga November. Pada periode emas tersebut, pasokan buah sangat melimpah ruah.
Memasuki awal Desember 2025, situasi sedikit berubah. Pasokan matoa mulai berkurang karena jumlah tanaman yang berbuah tidak sebanyak bulan-bulan sebelumnya. Meski demikian, Cik One memastikan bahwa roda bisnisnya tidak berhenti. Pengiriman buah tetap dilakukan secara rutin meskipun dengan volume yang menyesuaikan stok yang ada. "Tetap ngirim dengan seadanya. Kalau sekarang hanya beberapa kuintal saja," ujarnya.
Volume Pengiriman dan Lonjakan Harga
Jangkauan pasar matoa milik Cik One tidak hanya terbatas di wilayah Pati, melainkan telah menembus pasar Ibu Kota Jakarta dan daerah-daerah lain di luar Pati. Tingginya permintaan pasar seringkali membuat Cik One merasa kewalahan, terutama saat musim panen raya berlangsung antara Agustus hingga November lalu.
Dalam kondisi normal dan ramai, volume pengiriman buah dari gudangnya terbilang sangat besar. "Biasanya ngirim ke Jakarta. Sekali kirim itu bisa di atas 2 ton hingga 4 ton. Rata-rata 2 ton itu setiap hari," jelas Cik One menggambarkan kesibukan usahanya.
Hukum permintaan dan penawaran juga berlaku ketat pada harga jual matoa. Terdapat perbedaan harga yang signifikan antara masa panen raya dengan masa pasca-panen. Saat stok melimpah ruah, harga matoa per kilogram berada di angka Rp 25 ribu. Namun, harga tersebut bisa melonjak drastis hingga dua kali lipat saat pasokan menipis.
"Per kilo Rp 25 ribu saat panen. Kalau sudah tidak musim panen atau stok sedikit, harganya bisa naik sampai Rp 50 ribu per kilogram," terangnya. Saat ini, dengan stok yang lebih terbatas, harga jual berada di kisaran tertinggi yakni Rp 50 ribu.
Akumulasi dari volume penjualan dan harga tersebutlah yang membuat bisnis Cik One memiliki nilai ekonomi tinggi. Ia mengungkapkan bahwa omzet atau perputaran uang dalam usahanya bisa menyentuh angka Rp 1 miliar dalam kurun waktu satu bulan.
Bangkit dari Keterpurukan Berkat KUR
Di balik kesuksesan omzet miliaran yang kini dinikmatinya, Cik One menyimpan cerita perjuangan yang tidak mudah. Perjalanan bisnisnya sempat mengalami guncangan hebat hingga nyaris gulung tikar. Ia mengaku pernah menjadi korban penipuan yang dilakukan oleh orang lain, sebuah insiden yang membuat kondisi finansial usahanya goyah.
Namun, Cik One menolak untuk menyerah. Titik balik kebangkitannya terjadi ketika ia mendapatkan akses permodalan dari perbankan. Bantuan modal melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI menjadi penyelamat usahanya saat itu.
"Saya sempat nyaris bangkrut tapi dengan modal dari BRI, itu Rp 200 juta. Itu KUR. Sejak pengambilan pertama yang sudah lama itu, usaha ini bisa beranjak bangkit lagi dan bertahan sampai sekarang," kenang Cik One menceritakan momen krusial dalam sejarah usahanya.
Kini, berkat ketekunan dan suntikan modal yang tepat sasaran tersebut, Cik One berhasil mempertahankan eksistensi usahanya dan terus melayani permintaan pasar yang tinggi terhadap buah matoa khas Pati.
Sumber: Kisah Sukses Cik One Petani Matoa Beromzet Rp 1 Miliar Per Bulan di Pati
